Sampingan

mahasiswa dan demonstrasi

13 Mar

PENDAHULUAN

Latar belakang

Jika kami bunga, maka engkau adalah tembok itu. Telah kami sebar bii-biji, suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan bahwa engkau harus hancur”. (Wiji Thukul).

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, Demos dan Cratein. Demos berarti rakyat, dan Cratein berarti pemerintahan. Jadi, menurut bahasa asalnya, Demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat. Pemerintahan dijalankan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam demokrasi, suara rakyat sangat diperhitungkan dan menjadi bagian dalam pemerintahan itu sendiri.

Negara kita, Indonesia juga menganut paham demokrasi. Rakyat sangat berperan penting dalam pemerintahan, banyak sekali keputusan pemerintah yang berdasarkan keinginan ataupun pendapat rakyat. Mahasiswa, dalam hal ini termasuk juga dalam kategori rakyat tersebut. Bisa kita lihat bahwa beberapa keputusan penting pemerintahan, diambil karena tuntutan mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Misalnya, turunnya mantan presiden Soeharto pada era reformasi, itu terjadi karena mahasiswa yang menuntut agar orde baru berakhir dan diganti dengan reformasi. Turunnya almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun, juga terjadi karena mahasiswa melakukan demonstrasi demi perbaikan bangsa Indonesia tercinta ini.

Mahasiswa dan perubahan, kalimat ini memang sudah sangat singkron dan sudah begitu melekat untuk disandingkan menjadi elemen kata yang tidak bisa di pisahkan, hal ini karena perubahan-perubahan di negara manapun di dunia telah dilakukan oleh insan yang bernama mahasiswa. Mahasiswa sebagai insan kampus yang masih idealis serta bersikap independen merupakan penentu kemajuan masa depan sebuah bangsa. Jadi, sangat pantaslah kalau mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa memikul tanggung jawab ini. Mahasiswa sering melakukan gerakan-gerakan ke arah perubahan untuk kemajuan bangsa serta keadilan bagi masyarakat.

Jadi tidak logis kalau ada anggapan yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa merupakan ancaman terhadap negara dan penguasa, sehingga gerakan mahasiswa sering dilabelkan dengan gerakan komunis dan atau sejenisnya. Dalam Sebuah negara yang menganut sistem demokrasi seperti Indonesia misalnya, penguasa tidak perlu mencurigai setiap gerakan mahasiswa, karena hal itu merupakan dinamisasi perjalanan demokrasi. Kebebasan berekpresi dan mengeluarkan pendapat sangat di junjung tinggi. Dalam pandangan saya, gerakan mahasiswa merupakan bagian dari gerakan pendesak, kumpulan atau kelompok pendesak ini sangat dijunjung tinggi dalam sebuah negara demokrasi dan bukan malah untuk dicurigai. Adanya kumpulan pendesak ini akan lebih nampak dinamis dalam perjalanan bangsa dan negara.

Menurut Alan R.Ball (1993), kumpulan pendesak merupakan agregat sosial dengan tahapan yang padu serta berkolaborasi untuk tujuan yang sama yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses membuat keputusan politik. Sedangkan menurut golongan Marxis, menilai bahwa kumpulan pendesak (pressure) perlu ada didalam sebuah negara, mereka percaya bahwa negara tidak bersikap nertral dan terdapat ketidakseimbangan yang besar antara kumpulan dari segi kuasa politik. Oleh karena itu bukan saja kekuasaan negara dalam masyarakat demokrasi yang liberal yang memihak kepada kepentingan golongan buruh, tetapi juga terdapat jurang pemisah yang kentara diantara kedua-duanya. Istilah ini sering di namakan oleh Miliband sebagai ‘persaingan tidak sempurna’. Jadi dengan adanya kumpulan pendesak ini, penguasa akan lebih bersikap bijaksana dan adil dalam setiap pengambilan kebijakan maupun keputusan serta tidak akan memihak kepada kelompok status quo. Jadi fungsi kolompok pendesak ini adalah sebagai pengontrol dalam setiap keputusan dan kebijakan yang akan di keluarkan oleh para penguasa.

Tapi sebenarnya, apakah demonstrasi itu perlu dilakukan oleh mahasiswa? Seperti yang kita tahu, pekerjaan mahasiswa tidak hanya berdemonstrasi saja, tetapi, ujian-ujian, kuis, UKM, serta tugas-tugas dari dosen yang menumpuk, bahkan ada juga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Dengan kegiatan yang sangat banyak itu, apakah relevan jika mahasiswa melakukan demonstrasi?

Maka, hal itu yang kemudian mendasari kami untuk membahas mengenai “mahasiswa dan demonstrasi”, untuk lebih memeperdalam apa arti sebenarnya mahasiswa melakukan aksi demonstarsi, turun ke jalan, melakukan aksi boikot dan meneriakkan aspirasi mereka.

Rumusan masalah

Bertolak dari penjelasan dari latar belakang di atas maka adapun rumusan masalah dalam karya ilmiah ini dapat dikemukan sebagai berikut :

  1. Mengapa demonstrasi itu sampai ada?
  2. Apakah benar demonstrasi itu buruk?
  3. Mengapa mahasiswa berdemonstrasi?
  4. Salahkah cara mereka tersebut?

Tujuan penulisan

Sejalan dengan penjelasan pada rumusan masalah diatas maka adapun tujuan dari penulisan karya ini adalah :

  1. Menelaaah penyebab mendasar  kenapa mahasiswa melakukan demonstrasi ?
  2. Menelaah demonstrasi sebagai salah satu metode penyampain aspirasi kalangan akar rumput.
  3. Menelaah dampak atas demonstrasi yang dilakukan oleh mahasisswa

 

Mamfaat penulisan

Adapun mamfaat dari penulisan karya ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menambah wawasan mengenai demokrasi dan system serta gerkan perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa.
  2. Sebagai bahan informasi kepada mahasiswa mengenai mamfaat dan dampak akan adanya demonstarsi
  3. Sebagai bahan referensi dan informasi pada pembaca dan kalangan akademisi berlembaga ataupun penulis selanjutya yang tertarik untuk menelaah mengenai demonstrasi dan gerajkan mahsiswa.
  4. Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam kegiatan PROFIL 09 yang diadakan oleh HIMTI. .

 

TINJAUAN PUSTAKA

Konsepsi gerakan mahasiswa                  

Menurut Hussain Muhammad (1986) gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang di golongkan kepada gerakan sosial. Beliau menyifatkan kedudukan dan peranan gerakan mahasiswa mempunyai konotasi dengan gerakan kolektif dalam mewujudkan perubahan dalam suatu masyarakat. Seementara itu  menurut Jeffrey Haynes (sebagaimana di kutip dalam tulisan Touraine 1985) menjelaskan bahwa gerakan sosial merupakan pelaku yang secara budaya terlibat dalam konflik sosial atau politik, bertujuan dengan strateginya memiliki hubungan sosial dan rasionalitas. Fungsi mereka tidak bisa ditafsirkan dalam logika tatanan kelembagaan yang ada, kerana fungsinya yang  seimbang benar-benar merupakan tantangan bagi logika dalam mentranformasikan hubungan sosial. Karena itu, gerakan sosial selalu menentang status quo, mereka anti sistem, menyerukan dan memadukan tuntutan akan perubahan tatanan sosial, politik dan ekonomi. Dengan demikian, gerakan sosial berusaha untuk mencapai perubahan tingkat tinggi.

Lebih lanjut Jeffrey Haynes menjelaskan bahawa ciri utama gerakan sosial menandingi dasar politik dengan negara, gerakan sosial ini tidak tumbuh dalam isolasi pelaku sosial dan politik, tetapi merupakan pelaku kolektif yang terorganisir dalam perjuangan politik atau kultur yang berkelanjutan melalui jalan aksi yang institusional dan ekstra-institusional. Walaupun tema yang diusung menentang status quo, bahkan jauh dari itu mereka secara kritis berusaha untuk membangun indentitas sosial baru, menciptakan ruang demokrasi bagi aksi sosial yang otonom dan menafsirkan kembali norma dan membentuk ulang lembaga-lembaga. Juga mereka berusaha untuk mengerakkan bagian-bagian dan kelompok-kelompok yang tertindas atau tereksploitasi dalam cara baru dan berbeda.

Sebagai gerakan social (movement organization) gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang berusaha untuk mengerakkan atau memobilisasi golongan mahasiswa maupun masyarakat secara kolektif. Gerakan ini di lakukan untuk mewujudkan kesadaran politik setiap individu masyarakat demi menentang segala penindasan yang di lakukan oleh negara. Jadi gerakan mahasiswa merupakan gerakan untuk melawan hegomoni negara. Untuk mencapai keberhasilan perlu suatu gerakan yang kuat dan bersatu padu serta ide, gagasan dan tindakan politik yang radikal. Tegasnya, konsep gerakan sosial yang dibangun oleh mahasiswa merupakan suatu gerakan yang mempunyai bentuk tingkah laku serta budaya tersendiri.

Menurut Arbi Sanit (1999) gerakan mahasiswa mempunyai peranan yang sangat besar untuk perubahan masyarakat. Mahasiswa selalu mengambil peran sebagai pelopor dalam setiap perubahan. Keinginan yang sangat besar untuk melakukan perubahan adalah sifat yang sudah melekat pada mahasiswa yang berpikir kritis. Bila kita lihat gerakan yang dilakukan oleh mahasiawa Indonesia pada Mei 1998 yang lalu jelaslah bahwa mahasiswa mampu melibatkan diri dalam proses politik dan perubahan politik. Walaupun harus diakui segala gerakan dan tindakan mereka tidak selamanya benar, akan tetapi apa yang telah dikritik dan dilakukan oleh mahasiswa kadangkala akan menyadarkan nurani masyarakat.

Secara general, gerakan perlawanan mahasiswa lahir karena ada beberapa faktor diantaranya; masalah pendidikan, diskriminasi rasial, perlombaan persenjataan, kemiskinan, politik kolonialisme dan imperialisme. Gerakan perlawanan mahasiswa bukan hanya disebabkan oleh faktor di sekelilingnya akan tetapi juga meliputi faktor eksternal. Lebih lanjut Yozar Anwar menjelaskan bahwa pengalaman Perang Dunia I cukup menyentuh perasaan dan idealisme mahasiswa tentang begitu kejamnya peperangan. Industri-industri yang telah dibangun untuk kemakmuran manusia telah hancur akibat perang. Manusia mati sia-sia akibat  dari keputusan dan permainan para ahli politik.

Sejarah mencatat perang tidak menjadikan manusia bisa santun dan beradab justru malah sebaliknya menjadikan manusia buas dengan insting membunuh. Begitu halnya juga ketika Perang Dunia I usai, para pihak yang kalah perang tidak akan pernah puas. Idealisme gerakan mahasiswa pada waktu itu tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sejarah konflik dan perang pada umumnya.

Demikian juga halnya dengan gerakan perlawanan mahasiswa Aceh pada umumnya. Menurut Ahmad Human Hamid (1999), mahasiswa Aceh  merupakan satu generasi yang lahir tidak hanya membaca dan mendengar kisah Aceh yang dibalas 10 tahun dalam bentuk penjajahan Daerah Operasi Militer (DOM). Namun karena kesadaran yang dimiliki oleh rakyat dan mahasiswa khususnya, maka setiap kekejaman maupun penindasan pasti akan mendapat perlawanan, dan perlawanan itu dimulai dari darah-darah muda intelektual muda.

ARTI DEMONSTRASI

Demonstrasi adalah sebuah hal yang tidak mungkin terjadi pada sebuah negara yang memiliki good governance. Good governance disini saya artikan sebagai sebuah pemerintahan yang membagi kekuasaannya secara jelas serta masing-masing bagian melakukan tugas dan fungsinya dengan baik. Demonstrasi sebenarnya bukanlah gejala wajar. Demonstrasi adalah sebuah gerakan ekstra-parlementer. Gerakan ini muncul apabila ada ketidakberesan pada kinerja jajaran pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat tidak menjalankan fungsinya dengan baik serta saluran-saluran kritik kepada pemerintah (media massa dan LSM) lainnya mengalami kemacetan. Lalu demonstrasi pun akhirnya muncul sebagai gerakan ekstra-parlementer yang ingin menyampaikan keinginan rakyat melalui cara mereka sendiri, baik dengan berorasi, drama teatrikal, sampai membuat rusuh dan hingga bentrok dengan aparat. Demonstrasi sebenarnya bukanlah hal yang buruk karena itu adalah sebuah bentuk corong aspirasi masyarakat. Namun, apabila gerakan tersebut dilakukan dengan anarki maka akan menjadi sebuah hal yang sangat buruk, apalagi jika demonstrasi yang anarkis itu dilakukan oleh kaum intelektual.

METODOLOGI PENULISAN

Penulisan karya tulis ini dilakukan dengan mengikuti kaidah metode penulisan ilmiah yang berlaku sesuai aturan pedoman karya tulis yang ditetapkan.

Karya tulis ini disusun secara cermat dengan menggunakan dua bentuk  metode yang saling mendukung, yaitu :

  1. Metode kepustakaan ( library search )

Yaitu suatu bentuk metode penulisan yang disususn berdasarkan atas studi pustaka. Bahan-bahan kepustakaan yang dipergunakan meliputi berbagai sumber, yakni dengan menggunakan buku-buku bacaan (teks book) berbagai makalah yang terkait dan relevan dengan tulisan. Sebagai sumber pelengkap dan pendukung dalam metode ini, digunakan berbagai informasi ilmiah tertulis dari beberapa situs website di internetdan berita serta opini publik dari berbagaio media cetak dan elektronik yang berhubungan dengan topik bahasan

  1. Metode wawancara ( interview )

Untuk mencapai sasaran penulisan, maka penulis aktif melakukan wawancara dengan bebarapa orang dengan latar belakang berbeda, kuntuk lebih mendalami bagaimana pendapat orang-orang mengenai mahasiswa                       dan demonstrasi. Wawancara kami lakukan secara intensif untuk mencari informasi dan opini publik mengenai kasi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa, utamanya melaluyi pembimbing, mahasiswa dalam hal ini ketua lembaga kemahasiswaan, dosen dan masyarakat secara umum.

PEMBAHASAN

Mengapa Demonstrasi ?

            Mengapa mahasiswa berdemonstrasi? Jawabannya pernah diutarakan oleh almarhum Soe Hok-gie. Soe Hok-gie adalah salah seorang pelopor demonstrasi mahasiswa angkatan ’66 dalam rangka penyampaian Tritura dan tuntutan agar presiden saat itu, Soekarno, turun dari tahtanya. Ketika Gie (Soe Hok-gie) ditanya mengapa mahasiswa yang harus berdemonstrasi, dia menjawab bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual tidak seharusnya berada di menara gading dan hanya mencari ilmu saja, tapi mahasiswa juga harus bisa dan mau turun ke tengah-tengah masyarakat, mendengarkan jeritan mereka, dan kalau perlu menjadi garda terdepan dalam penyampaian jeritan masyarakat. Mahasiswa tidak ingin melihat masyarakat yang harus berdemo karena jika itu terjadi maka akan tejadi chaos. Karena itulah agar jangan sampai terjadi chaos lebih baik kaum mahasiswa yang turun ke jalan dan menyampaikan inspirasi mereka. Demikianlah kira-kira pemikiran seorang Gie dan pemikiran itu memang logis adanya. Jadi jangan salahkan mahasiswa jika mereka berdemo.

Inti dari demonstrasi dan tulisan ini sendiri adalah gerakan demonstrasi muncul sebagai akibat dari macetnya saluran aspirasi masyarakat lain, termasuk juga lembaga perwakilan rakyat. Dan mahasiswa adalah sebagai garda depan laskar masyarakat, sebagai pejuang revolusi yang sesungguhnya, karena di Indonesia sudah terbukti, demonstrasi mahasiswa bisa menumbangkan kekuasaan dua orang tiran pada tahun 1966 dan 1998. Dan satu hal yang paling penting yaitu hendaknya demonstrasi ditempatkan pada prioritas yang terakhir dalam usaha penyampaian aspirasi dan kritik kepada pemerintah. Sebelum demonstrasi dilakukan kritik bisa dilakukan melalui tulisan dan media lain. Jika itu tidak diperhatikan, maka silakan berdemo dengan sehat dan tertib. Apabila pemerintah sudah bebal dan sudah kebal serta tuli terhadap kritik. Maka berdemolah dengan keras dan teriakkanlah: REVOLUSI seperti yang pendahulu kalian lakukan dan berikan kepada negeri ini.

Sejarah pun menggoreskan bahwa mahasiswa telah menumbangkan rezim besar melalui kekuatan maha-nya. Perubahan demi perubahan di negeri ini diakui atau tidak sedikit banyak dipengaruhi oleh gerakan mahasiswa. Negeri bisa langsung dibuat heboh oleh satu tindakan mahasiswa. Salah satu tindakannya adalah demonstrasi.
Demonstrasi sendiri adalah sebuah gerakan protes sekumpulan orang di hadapan umum yang dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penantang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula penekanan sebagai sebuah upaya secara politik oleh kepentingan umum. Setelah rezim suharto tahun 1998, demonstrasi menjadi marak dan telah dijadikan sebagai upaya pembebasan pendapat di Indonesia.
Sekarang ini, demonstrasi dirasa sebagai sebuah kegiatan yang efektif untuk menyampaikan pendapat atau aspirasi kepada para petinggi negeri. Cara- cara formal seperti audiensi atau jajak pendapat, mulai ditinggalkan lantaran dinilai kurang efektif. Penyebab ketidakefektifannya adalah kegiatan formal tersebut sulit dilakukan dan dampaknya memakan waktu lama.

Kadang kala, kegiatan tersebut tak mendapat tanggapan lantaran tidak semua petinggi negeri kita mau duduk bersama rakyatnya untuk tahu aspirasi dan kebutuhan rakyatnya. Hal ini menjadi salah satu sebab kekecewaan mahasiswa terhadap orang- orang atas negeri. Mahasiswa menganggap orang atasnya sebagai orang yang tak mau ditegur dengan cara halus, tetapi harus dengan cara agak keras. Dan alhasil, demonstrasi menjadi jalan pintas bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi rakyat.
Pada dasarnya, demonstrasi digunakan karena mampu menarik perhatian, baik itu perhatian dari rakyat, aparat sampai pada pejabat. Saat mahasiswa harus melakukan kegiatan yang tidak mampu menarik perhatian tiga elemen tersebut, tentu kegiatan yang dialakukannya menjadi kegiatan yang mentah dan tidak ada aspirasi ataupun opini publik yang bisa dibangun.

Mahasiswa Sebagai Agent Of Change

Mahasiswa sama sekali tidak bisa dipisahkan dari kegiatan demonstrasi. Terlepas termasuk ke dalam kategori apa si mahasiswa bersangkutan. Yang jelas, sebagai kaum intelektual mahasiswa punya tugas menjadi penyambung lidah rakyat. Suara mahasiswa adalah suara rakyat. Kalimat itu tergaung dalam dunia pergerakan mahasiswa. Mahasiswa terdengar gaungnya karena kegiatan demonstrasinya. Tentu saja bukan sembarang gaung tanpa dilandasi intelektualitas. Gaung tersebut yang bisa mengguncang negeri dan melahirkan perubahan. Kita patut menghargai pendapat orang lain dan caranya menyampaikan pendapat. Artinya kita pun patut menghargai mahasiswa dengan dinamika kegiatan demonstrasinya.

Belakangan ini berdasarkan pemberitaan media massa maupun elektronik memosisikan mahasiswa pada garda paling depan dalam setiap aksi demonstrasi yang teraktualisasi dalam sebuah gerakan massal mahasiswa yang menginginkan adanya perubahan atau pembaharuan yang meliputi aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya atau biasa disebit demonstrasi.

Idealnya adalah bahwa setiap gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa memang semata-mata hanya dan untuk kepentingan rakyat dengan kata lain mahasiswa sebagai ‘pembela rakyat’ ditengah hegemoni kekuasaan yang mengkooptasi rakyat. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang sarat dengan ‘budaya ilmiah’ dan senantiasa menjadikan ‘saintifik-rasional’ sebagai ukuran setiap tindakan ternyata harus berlawanan dengan fakta dilapangan. Ketimpangan antara ‘yang senyatanya’ dan ‘yang seharusnya’ bermunculan tidak hanya terfragmentasi dari perbedaan ideologi tetapi juga stigmaisasi negatif dari masyarakat terhadap mahasiswa yang notabene adalah ‘yang diperjuangkan’. Pencitraan negatif ini tentu sangat beralasan dan berangkat dari fakta dilapangan yaitu aksi anarkis mahasiswa dalam demonstrasinya di jalan, mulai dari pengrusakan terhadap fasilitas umum, memblokir jalan, membakar ban yang tentunya sangat merugikan masyarakat. Lalu dimanakah idealisme mahasiswa sebagai aktor intelektual yang di gadang-gadang menjadi ‘motor perubahan bangsa ini’?

Demonstrasi Sebagai Bagian Dari Krisis Identitas Mahasiswa

Anarkisme, tawuran, dan kekerasan-kekerasan lainnya jelas sama sekali tidak lekat dengan nilai-nilai luhur yang tersemat pada mahasiswa sebagai agen perubahan. Gerakan mahasiswa yang berbasis pada kekuatan moral (moral force) yang diembannya sebagai cermin dari orang yang berpendidikan (educated person). Menurut penulis, saat ini yang ditonjolkan oleh mahasiswa dalam demonstrasinya lebih kepada tindakan anarkisme dibandingkan dengan tawaran solutif yang diajukan atas sebuah ketidakadilan. Jika mahasiswa belum mampu bersikap cerdas dalam setiap demonstrasinya dengan masih bertindak amoral keluar dari ciri mahasiswa ideal sebenarnya, maka mahasiswa tak ubahnya seorang preman berpendidikan.

Dengan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang mendefinisikan Demonstrasi sebagai bentuk pernyataan protes yang dilakukan secara massal. Protes terhadap sebuah kondisi yang dianggap melanggar hak-hak rakyat kemudian menggugah hati nurani mahasiswa sebagai kaum yang dianggap memiliki kelebihan di atas rata-rata masyarakat awam untuk mengambil peran sebagai penyambung lidah rakyat. Dalam konteks ini, secara historis mahasiswa Indonesia pernah memberikan kontribusi bagi kemerdekaan negeri ini.

Gerakan mahasiswa pra-kemerdekaan semisal Boedi Oetomoe, sebuah pergerakan nasional dengan wadah perjuangan yang memiliki struktur pengorganisasian yang dimotori oleh mahasiswa dan pemuda dari lembaga pendidikan STOVIA, sebuah sekolah kedokteran di Jakarta pada saat itu. Pada tahun 1908, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda juga membentuk sebuah organisasi perhimpunan yang dinamakan Indische Vereeniging yang merupakan pusat kegiatan mahasiswa tentang perkembangan situasi Tanah Air, namun kemudian menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1992 yang kemudian berubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia pada tahun 1925. Berdasarkan sejumlah masalah yang diinventarisasikan oleh pengurus Perhimpoenan Indonesia waktu itu, muncul sikap menentang terhadap penjajah, tidak mau berdamai serta tidak kenal kerja sama. Semangat itu terlihat dalam dasar-dasar Perhimpoenan Indonesia, yang intinya adalah sebagai berikut: 1) Masa depan bangsa Indonesia semata-mata tergantung pada susunan pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat; 2) Untuk mencapai itu, setiap orang Indonesia berjuang sesuai kemampuan serta bakatnya, dengan tenaga dan kekuatan sendiri; 3) Untuk tujuan bersama itu, semua unsur atau lapisan rakyat bekerja sama seerat-eratnya. (Arismunandar: 2007).

Saat ini, ditengah citra buruk mahasiswa di mata masyarakat, selain belajar dari sejarah yang de facto memberikan kontribusi berarti besar bagi bangsa, kita juga harus berani melakukan auto-kritik dengan bersikap dewasa dalam setiap aksi dan tindakan, jika kita sebagai mahasiswa benar-benar ingin menjadi representasi dari rakyat dan masih ingin menyurakan penentangan terhadap ketidakadilan yang terjadi di negeri ini.
Masalah lain yang juga penting adalah perihal idealisme mahasiswa, karena idealisme dan mahasiswa adalah bagian yang tak seharusnya terpisahkan karenaidealisme merupakan identitas yang melekat pada mahasiswa. Karena idealisme sangat dimungkinkan luntur manakala mahasiswa berada dalam kubangan hegemoni kekuasaan. Berdasarkan alasan ini maka idealisme mahasiswa harus tergambar baik dalam orasi demonstrasi secara teori maupun dalam praktiknya. Jika selama ini ada image bahwa oposisi yang dilakukan oleh mahasiswa terkesan acuh tak acuh terhadap pemerintahan, maka image ini harus dirubah dengan menggerakan mahasiswa melalui demonstrasi yang mampu mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah terkait masalah politik, ekonomi dan sebagainya lagi-lagi dan hanya untuk kepentingan rakyat tidak karena kepentingan-kepentingan sesaat dengan kata lain idealisme mahasiswa dengan kekuatan berbasis moral (moral force) yang menjadi tulang punggung rakyat harus tetap menyala, terbebas dan independen.

Jika hal ini benar-benar terlaksana maka pada gilirannya demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa-mahasiswa bukan hanya sekedar ritual demokasi kosong belaka yang kekerasan lebih ditonjolkan daripada ‘unjuk perasaan’ terhadap ketimpangan sosial, politik, ekonomi serta kebijakan-kebijakan tidak populis pemerintah. Hal ini tentunya hanya akan menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap mahasiswa sebagai agen perubahan, alih-alih mensejahterakan rakyat, tindakan demonstrasi bar-bar semacam ini sudah pasti menyusahkan rakyat yang juga berarti tidak sinkronnya antara tujuan demonstrasi dengan hasil yang dicapai dari demonstrasi itu sendiri.

Demonstrasi Mahasiswa sebuah Gelaran Moral kaum Intelektual

Edward W. Said (1995) dalam bukunya Representation of The Intellectual merumuskan intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan pesan, pandangan, sikap kepada publik yang tujuan dari aktualisasi tersebut melahirkan kebebasan untuk memotivasi dan menggugah rasa kritis orang lain agar berani menghadapi ortodoksi, dogma, serta tidak mudah dikooptasi kuasa tertentu, sehingga intelektual harus selalu aktif bergerak dan berbuat dengan ketajaman nalarnya.
Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai representasi dari kaum intelektual berdasar pada pertimbangan-pertimbangan ilmiahnya sudah seharusnya mampu mengelaborasi antara teori dan praktik. Demonstrasi sebagai sebuah gelaran demokrasi hanya akan menjadi ‘garang’ dan ‘menyeramkan’ manakala mahasiswa sebagai kaum intelektual belum mampu memfungsikan intelektualitas yang dimilikinya secara maksimal, karena intelektualisme yang hampa dari agenda humanisasi adalah sebuah pengkhianatan terhadap nurani kemanusiaan. (Jamal: 2008).

Kekuasaan yang menghegemoni rakyat terimplementasi dalam bentuk-bentuk ketidakadilan, penindasan serta bergulirnya kebijakan-kebijakan tidak populis adalah sangat wajar jika membuat mahasiswa ‘marah’, kooptasi yang dilakukan pemerintah sama halnya menabuh ‘genderang perang’ kepada mahasiswa. Namun perlu diingat demonstrasi sebagai salah satu saluran dialog antara rakyat dan pemerintah tidak harus diselesaikan secara anarki sebagai konsekuensi logis dari pemilik ‘nurani intelektual’ yang dimiliki mahasiswa terkandung nilai-nilai ideologis keutuhan kemanusiaan dan keadilan universal yang selama ini disuarakan oleh mahasiswa. Paradoks jika mahasiswa sebagai kaum intelektual melakukan demonstrasi anarkis atau ‘tidak bernurani intelektual’ yang berarti tidak ramah terhadap tatanan sosial

 

 

2 Tanggapan to “mahasiswa dan demonstrasi”

  1. rajapisangku Maret 27, 2014 at 6:48 am #

    Mudah2an bermamfaat bang,, Trimakasih sudah menjadikan sumber,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: